Untuk unggul atau mampu bersaing dengan wilayah lainnya, maka setidaknya ada beberapa faktor penting yang saling berpengaruh yaitu bagaimana beberapa permasalahan pokok dikelola antara lain: potensi Sumber Daya Manusianya, Sumber Daya Alam, Infrastruktur, Sistem pemerintahan, Manajemen keuangan dan Transaksi/Perdagangan, hingga Penerapan ilmu dan Teknologinya. Konsep dan Strategi pengelolaan berbagai hal tersebut di NTT masih berada pada taraf yang belum optimal sehingga tentu sulit untuk bersaing dengan wilayah lainnya. Tugas setiap pemimpin adalah bagaimana mengoptimalkan faktor-faktor tersebut sehingga dapat mendukung setiap aktivitas pembangunan yang memiliki daya saing.
Senin, 24 Maret 2008
Peternakan. Sebenarnya pada masa lalu NTT dikenal sebagai salah
satu provinsi pengekspor ternak. Namun belakangan terjadi kemunduran
dan NTT tak pernah bisa lagi kembali kepada performance-nya semula.
Nah bagi saya ini adalah potensi yang sedang tertidur.
Maka untuk membangun NTT tugas kita adalah menghidupkan potensi ini.
Potensi Sapi Bali dapat dijadikan pilihan untuk dikembangbiakkan
di NTT karena pernah mencatat rekor untuk jenis ternak lahan kering.
Pertanian lahan kering. Perlu dicarikan varietas tanaman yang cocok dikembangkan
di lahan kering. Misalnya saja jagung sebagai tanaman utama dan kacang kacangan
sebagai tanaman sela yang dapat dipanen dalam waktu yang relatif singkat.
Perlu diseleksi juga varietas jagung yang secara genetik memang cocok di lahan kering,
karena bisa jadi sumber makanan atau bisa juga menjadi makanan ternak.
Iklim daerah NTT yang kering berdampak terhadap kadar air jagung yang lebih rendah
dibanding wilayah lain sehingga sangat cocok untuk industri pakan ternak,
termasuk pula batang jagungnya. Ini adalah keunggulan komparatif yang bisa
dikembangkan. Apabila Gorontalo bisa swasembada jagung , NTT seharusnya
juga bisa. Selain itu berbagai komoditas seperti coklat, kemiri, jambu mente
yang sudah ada yang sampai pada tahap produksi memakan waktu yang cukup panjang
Kelautan. Potensi laut di NTT sangat besar. Namun sayang, orang NTT jarang atau
mungkin saja sedikit yang tertarik untuk berusaha di laut. Ikan yang
selama ini ada di NTT ditangkapi oleh orang Bugis. Kalaupun ada hasil tangkapannya
ternyata banyak yang langsung diserap oleh kapal asing sehingga manfaat ekonomis
yang dapat diperoleh pemerintah NTT menjadi tidak jelas, dari segi kemasyarakatan yang
untung sebenarnya para nelayan yang nota bene tidak banyak memberi nilai
tambah kepada masyarakat pesisir pantai. Tugas pemerintah adalah mendorong agar
orang NTT sendiri mau berusaha di laut. Untuk proses belajar, orang Bugis bisa digandeng
untuk menjadi pelatih. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan cold storages/
fasilitas ruang pendingin dan pasar untuk hasil laut tersebut, atau apabila hasil tangkapan
yang tidak terjual dapat dicarikan solusi dengan pendirian pabrik
tepung ikan skala kecil. Potensi lestari laut NTT sangat kaya, sehingga
provinsi ini sebenarnya sudah bisa hidup dari hasil laut saja
Pertambangan. Di beberapa wilayah NTT terdapat potensi pertambangan.
Di antaranya batu marmer, emas, minyak bumi, dan sebagainya. Untuk aktivitas
pertambangan ini, perlu ada penyederhanaan dalam masalah perijinan. Investor
perlu difasilitasi dengan prosedur yang mudah, jelas dan pasti, serta tidak perlu
dibebani besarnya biaya pembebasan lahan pada tahap awal. Berkaitan dengan lahan yang
diklaim sebagai milik suku atau milik adat, Pemerintah memiliki tugas untuk mengkonversi
areal tersebut dengan nilai ekonomis tertentu, sedangkan masyarakat setempat sebagai
pemegang saham, mengkonversi dengan nilai modal yang diinvestasikan oleh investor.
Hal ini penting diangkat karena sebagian besar daerah yang status hak dan penguasaan atas
tanahnya merupakan “tanah ulayat” maupun “tanah yang dikuasai oleh masyarakat adat”,
maka tugas Pemerintah adalah memfasilitasi berbagai pihak yang berkepentingan melalui
sistem regulasi yang baik untuk menarik investor. Sebab sektor pertambangan memang
membutuhkan modal dan teknologi yang tinggi, sekalipun untuk daerah yang sudah bagus
infra strukturnya, apalagi untuk kondisi NTT.
Wisata budaya, Setiap wilayah di NTT mempunyai keunikan budaya sendiri-sendiri.
Jika di Jawa dan Bali keunikan budaya itu bisa mendatangkan nilai tambah ekonomi maka
di NTT juga seharusnya bisa. Paling tidak hasil seni dan budaya yang berkembang
bisa menarik orang untuk berwisata dan mengunakan hasil dari kebudayaan tersebut.
Misalnya saja, kerajinan tenun ikat di Sumba, Flores dan Timor yang memiliki nilai estetika
tinggi, tari-tarian dan lagu-lagu serta aktivitas ritual adat tradisional yang memiliki kekhasan
budaya. Ini tugas Pemerintah juga untuk mengembangkan potensi melalui penyediaan
fasilitas pusat seni dan budaya, mekanisme peningkatan ekonomi industri kerakyatan,
dan promosi yang memadai. Pada akhirnya, sektor ini dapat menjadi ‘icon’ bagi NTT
dan penopang bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Langganan:
Postingan (Atom)

